Kamis, 09 September 2010

Asa Anak Bangsa: Idealisme, Visi, dan Nafas Intelektual dalam Gudang Pemikiran (Part 1)

khairunnas anfa'uhum linnas
-sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain- Muhammad saw

Tiada kata tergores, tiada keringat menetes, selain mengharap ridho Allah di garis perjuangan yang telah dipilih.

Guratan asa seorang anak bangsa yang bukan siapa-siapa, hanya manusia yang terus digugat oleh nafasnya sendiri, nafas nurani dan intelektual untuk berkontribusi.. Memberi secercah cahaya di ujung lorong, menjadi nakhoda kapal retak untuk menghantam gelombang, dan meraih penopang untuk langit yang hampir runtuh menelan peradaban..


Asa anak bangsa yang berusaha meneguhkan idealismenya, sebagai bekal di hari depan, sebagai pengingat di kala lupa, dan sebagai cambuk di waktu hampa..

Asa anak bangsa dengan visi tak seberapa, "hanya" berjalan tergerak sembari menanti sampainya hari-hari di suatu gerbang indah, yang tak tahulah lagi berapa senti, atau kilo jaraknya..

Asa anak bangsa yang ditampar nurani dan intelektualnya, untuk ikut meneteskan keringat, demi perubahan dan progresivitas peradaban!

Di sebuah gudang pemikiran, menumpuk asa dan pengharapan, menggagas ide demi kemaslahatan. Usaha menajamkan intelektual sebagai sarana menuju keabadian.. Kemudian digerakkan dan menggerakkan, agar tidak terlupa dan dilupakan..

jangan halau, dan jangan coba menghalau! karena engkau akan terempas badai besar di mana aku ikut di dalamnya..
jangan halau, dan jangan harap bisa menghalau! karena engkau akan terlindas-tergiling peradaban..

setiap zaman punya anak emasnya sendiri..  anak emas ditempa oleh kerasnya zaman, karena yang mudah di tengah zaman hanyalah tidur atau mati..

Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan suatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi, dan tumbuh pada pohon
-Pramoedya Ananta Toer-
jangan hanya diam, karena yang hanya diam adalah si sekarat dan si mati
jangan lari, karena yang lari hanyalah kriminal

Tak butuh banyak orang untuk mengubah dunia. Bahkan Presiden Soekarno hanya butuh sepuluh pemuda untuk mengguncangnya! Mari bergerak! Progresivitas peradaban menanti kita, kawan!


Salam terhangat dari hati terdalam,



M.M. Gibran Sesunan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar