Senin, 16 April 2012

Syukur dan Sabar

Hari ini aku bertemu Anda tiga kali. Di tiga tempat berbeda. Dengan persamaan yang hanya satu.

Aku melihat tatapanmu yang tajam menyorot jalan sambil terduduk di pinggirnya.

Tatapan yang entah nanar atau berbinar. Pilu atau syahhdu. Lelah bergulat atau tetap semangat.

Yang jelas, dari ketiga pertemuan hari ini, dan pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku teringat sesuatu : masa kecilku.

Dan aku banyak belajar :

Untuk tetap bersyukur dan bersabar, sebagaimana keyakinanku menahbiskan dirinya dalam dua porsi besar tersebut, yang mungkin aku lupa.

Ketangguhanmu mengagumkanku. Salam hormatku untuk kegigihanmu.

Aku banyak belajar.
                                               
Untukmu, guru pengingat syukur dan sabar, si penjual mainan tradisional.*
      Yogyakarta, 15 April 2012




*Beliau adalah penjual gasing dan mobil-mobilan dari kayu. Ia mungkin terlupakan oleh zaman yang bergerak cepat meninggalkannya. Dan anak-anak kecil hari ini pun mungkin kebanyakan tidak mengenal jenis mainan tersebut. Maka aku bersyukur pernah bergulat dengannya. 
Terima kasih, Bapak Penjual Mainan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar