Jumat, 05 Agustus 2011

Kegamangan Nasdem


Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) tengah diterpa krisis. Salah seorang inisiator yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan mundur dari ormas yang mengusung jargon restorasi Indonesia ini.  



ALASANNYA, visi Nasdem tak lagi sejalan karena adanya dualisme dalam tubuh Nasdem. Satu berbentuk ormas sesuai dengan tujuan ketika dideklarasikan, di lain sisi terdapat Partai Nasdem yang telah didirikan dan siap bersaing dalam Pemilu 2014.
    Keberadaan Nasdem sebagai partai politik yang akan berkompetisi dalam pemilu bukanlah hal yang mengejutkan. Sejak awal, dapat diprediksi arah organisasi kemasyarakatan Nasdem akan dibawa. Meski dalam inisiasinya para pendiri Nasdem sepakat bahwa Nasdem adalah gerakan berbasis sosial-kemasyarakatan, bukan gerakan politik, motor pendiri Nasdem adalah Surya Paloh yang notabene mantan politisi Partai Golkar yang keluar pasca kekalahannya dalam perebutan ketua umum.
    Walau ditampik oleh pengurus bahwa Partai Nasdem berbeda dari ormas Nasdem, toh tak dapat dipungkiri bahwa partai Nasdem diusung kader-kader ormas Nasdem itu sendiri. Sehingga, kini sangat sulit dibedakan mana ormas maupun partai. Ambiguitas inilah yang justru menjadi blunder, bahkan ketua dewan pembina Nasdem pun kemudian mundur karena alasan ini.
    Jika memang Partai Nasdem bukan merupakan institusi resmi, seharusnya ormas Nasdem menegur dan melarang penggunaan nama yang sama, disertai kemiripan-kemiripan simbol-simbolnya karena jelas itu merupakan tindakan pemboncengan. Tetapi petinggi ormas sama sekali tak mengambil tindakan atas keberadaan Partai Nasdem yang dideklarasikan kader-kadernya. Artinya, ormas mengizinkan adanya sisipan partai dalam tubuh organisasinya, dan menjustifikasi persepsi masyarakat bahwa Nasdem memang sejak awal bermotif politik, bukan sosial.
    Secara hakiki, jelas terdapat perbedaan mendasar antara sebuah ormas dengan parpol. Ormas membawa misi sosial untuk memperkuat fondasi kemasyarakatan. Sementara parpol membawa tujuan politik yang tentunya tak pernah lepas dari kepentingan di dalamnya, dan kekuasaan adalah hilir segalanya.
    Keberadaan Partai Nasdem yang membonceng ketenaran ormas Nasdem tentu merugikan ormas Nasdem baik secara institusional maupun fungsional. Saat ini, ormas Nasdem menjadi alternatif gerakan sosial yang tengah naik daun, selain karena kampanye-kampanye perbaikan bangsa dengan restorasi, Nasdem juga dimotori tokoh-tokoh yang kredibilitasnya diakui di pentas nasional. Sebut saja Anies Baswedan, Syafii Maarif, Jeffrie Geovannie, dan lain sebagainya. Dengan adanya motif politik terselubung yang ditandai dengan berdirinya partai Nasdem, tentunya para tokoh penggerak yang tak memiliki tujuan politik tertentu saat mengusung Nasdem kebingungan dan berpikir seribu kali dengan adanya dualisme dalam tubuh Nasdem yang telah melenceng dari tujuan awal, Sultan adalah contohnya.
    Kepercayaan dan simpati masyarakat terhadap keberadaan Nasdem bisa luntur seketika ketika Nasdem inkonsisten membawa visi dan misinya. Ya, masyarakat sudah lelah dengan kondisi politik nasional yang terlalu gaduh, riuh-rendah, buas, dan kerapkali saling mencaci. Masyarakat kini butuh organisasi yang bisa memberi pemahaman politik secara berwibawa dan bermartabat, bukan malah ikut meramaikan carut-marut rimba politik nasional yang buas.
    Kerugian lain yang diderita ormas Nasdem dengan adanya partai sisipan adalah berkurangnya kader dan simpatisan. Tak dapat dipungkiri, banyak kader Nasdem merupakan pegawai negeri sipil (PNS), yang secara hukum dilarang terjun ke politik praktis. Dualisme ini membuat kader birokrat gamang dengan posisinya, dan sangat mungkin kader-kader tersebut hengkang dari Nasdem.
    Yang tak dipertimbangkan Nasdem ketika memutuskan terjun ke dunia politik, pengurus Nasdem di daerah mayoritas berasal dari kalangan kader partai politik. Dengan adanya partai Nasdem ini, Nasdem sebagai partai baru yang belum tentu besar peluangnya menembus ambang batas partai tentu tak menarik lagi untuk digeluti, terlebih untuk kader partai loyalis, tentu tak akan dengan mudahnya berpaling ke partai lain. Yang ada, suara dari Nasdem akan dibawa menjadi suara partai asalnya.
    Untuk itu, Nasdem sebagai ormas tak seharusnya mengkhianati kepercayaan rakyat yang begitu besar dengan berpolitik praktis. Sudah selayaknya, Nasdem kembali ke khitahnya sebagai organisasi alternatif yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai permasalahan bangsa. Seperti halnya Jepang yang telah menikmati hasil dari Restorasi Meiji, Nasdem sesuai visinya pun harus mampu mewujudkan gerakan kesadaran nasional: restorasi Indonesia!(*)

M.M. Gibran Sesunan
Mahasiswa Fakultas Hukum UGM

Dimuat di Harian Radar Lampung, Selasa 19 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar